artikelby: ahmad on: 2011-09-07 14:14:10 telah dilihat sebanyak 6502

Lebaran

Sehabis berpuasa sebulan penuh, biasanya kita akan 'lupa diri' di Hari Raya Lebaran. Segala sajian lezat langsung di santap. Jika tak dibatasi, efeknya tak baik buat kesehatan. Ikuti tips berikut ini untuk bisa makan enak tapi tubuh tetap sehat.

Sajian ketupat dengan gulai, opor, dan rendang, pasti menjadi menu favorit setiap keluarga di Hari Lebaran. Belum lagi kue-kue yang sangat menggugah selera berjajar di meja ruang tamu menggoda untuk dicicipi. Sebut saja kastangel, nastar, brownies, cake, lapis legit, dan tiramisu yang sangat menggoyang lidah.

Benar. Siapa pun harus waspada. Di balik kelezatan semua hidangan Lebaran tersebut, diperlukan kebijakan berpikir sebelum menyantapnya. Seperti yang diutarakan Dr. Titi Sekarindah, MS, SpGK, semua makanan yang terhidang di hari Lebaran pada umumnya mengandung lemak dan kalori yang sangat tinggi. Oleh karena itu, harus dibatasi saat menyantapnya.

"Bukannya tidak boleh menyantap semua masakan, tapi harus tetap ingat porsi idealnya. Sayang, kan, setelah tubuh atau pencernaan kita beristirahat selama sebulan dengan berpuasa, tiba-tiba dipenuhi lagi oleh makanan yang kurang seimbang nilai gizinya," terang dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, ini.

SUDAH TURUN, NAIK LAGI
Puasa, kata Titi, sangat menyehatkan. Dengan mengurangi satu kali pola makan sehari-hari di saat berpuasa, dipastikan dapat mengurangi berat badan. Terutama bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih alias kegemukan (obesitas). Yang beratnya normal pun, biasanya setelah sebulan berpuasa akan mengalami penurunan berat.

Titi menguraikan, dengan berkurangnya satu kali pola makan di bulan puasa, rata-rata akan mengurangi berat badan sekitar kilogram dalam seminggu. "Berkurang kilogram berat badan, kira-kira sama dengan berkurangnya 500 kalori. Dalam sebulan, orang normal akan berkurang sekitar 2 kilogram jika makannya tak berlebihan. Jika menjaga makannya lebih ketat lagi, bisa berkurang sampai 4 kilogram. Sebaliknya, jika waktu berbuka dan sahur makannya tak terkontrol, justru berat badan akan naik. Nah, ini yang harus diperhatikan."

Dengan berkurangnya berat badan usai berpuasa, sebetulnya kondisi tubuh dalam keadaan sangat baik. Sebab, sistem dalam tubuh yang biasanya dijejali makanan terus-menerus, mendapat waktu sebulan untuk beristirahat. Nah, setelah berpuasa, sistem tubuh kembali aktif dan pencernaan jadi membaik. Oleh karena itu, di saat Lebaran hendaknya direncanakan untuk tidak makan secara berlebihan.

Titi menyarankan, kurangi makan hidangan yang terlalu berlemak, bersantan, goreng-gorengan, dan yang serba manis. Jika tergoda, boleh saja mencicipi secukupnya dengan porsi sedikit. Sebab, kue-kue Lebaran pada umumnya termasuk makanan berkalori tinggi karena bahan dasarnya lebih banyak terbuat dari bahan yang mengandung gula atau manis. Selain rasanya enak, rasa manis juga memiliki sifat tidak akan membuat kenyang, sehingga bikin orang penasaran untuk terus menyantap kue tanpa ingat jumlah kalori yang sudah masuk ke dalam tubuhnya.

Begitu juga dengan minuman. Seharusnya soft drink, punch, sirup, atau milk shake jangan terlalu mendapat porsi lebih karena manis dan tentunya berkalori tinggi. Sebagai gantinya, saran Titi, santaplah buah potong segar dan manis tanpa gula. "Atau agar-agar yang diolah tanpa gula berlebihan atau tanpa vla susu. Ganti vla dengan buah segar yang diblender."

Terakhir, agar tubuh kembali bugar, seimbangkan dengan olah raga di pagi atau sore hari. Cukup 30 menit saja untuk membakar kalori yang telah masuk ke dalam tubuh. "Selain itu, olah raga juga sangat baik untuk kesehatan jantung dan menjaga berat badan."